Sebenarnya, apakah tujuan pria ini menghabiskan waktu berjam-jam di kafe tersebut? Ternyata ia sedang melatih kepekaan hatinya untuk melihat sejauh mana hatinya peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Katanya, “Jika saya tidak melatihnya, saya tidak akan pernah memandang orang lain, saya hanya akan menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhan saya, memperhatikan saya, atau mengasihi saya! Sekalipun saya pandai berdiplomasi dan mengambil hati orang, hal itu semata-mata hanya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, untuk meraih apa yang menguntungkan bagi diri saya. Namun, saya tidak pernah memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan! Saya tidak pernah menggumulkan apa yang mereka gumulkan!” Itulah juga nasihat yang diberikan oleh Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Bagaimana mungkin kita bisa bersukacita dengan orang bersukacita dan menangis dengan orang menangis bila kita tidak pernah duduk dengan tenang dan berusaha memikirkan orang lain? Seorang pemimpin dan pelayan dipanggil untuk bersikap peka terhadap pergumulan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pelayan perlu terus-menerus melatih diri untuk peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya, karena hal itu adalah bagian dari kepemimpinannya. Amin.