Renungan Berjalan bersama Tuhan

Suami vs Istri

Suami vs Istri

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kolose 3:18-21

Pada umumnya banyak gereja mengenal program “Bulan Keluarga atau Pekan Keluarga.” Setiap tahun program itu diadakan, dan pada umumnya jatuh pada bulan Oktober karena berkaitan dengan peringatan hari Reformasi Gereja oleh Martin Luther. Sebagai tradisi dari Gereja-gereja Protestan atau Gereja-gereja Reformasi, setiap Bulan Keluarga atau Pekan Keluarga, gereja mengadakan kegiatan pelayanan yang menekankan pentingnya keakraban, kesehatian, kekompakan, dan kasih, baik dalam kehidupan keluarga “kecil”, yakni keluarga, maupun keluarga “besar”, yakni jemaat Tuhan. Dan kegiatan pelayanan itu diakhiri pada tanggal 31 Oktober untuk memperingati hari Reformasi. Gereja dikembalikan pada ajaran yang benar dengan berlandaskan sola fide, sola scriptura, dan sola gratia. Keselamatan itu hanya karena iman, karena firman Allah, dan karena anugerah Allah.

Mengapa kegiatan pelayanan pada Bulan Keluarga atau Pekan Keluarga itu mengarah pada keluarga? Karena didasari pengertian bahwa ibadah Gereja Reformasi adalah keluarga. Kita adalah “keluarga Allah”. Maka dari itu, pembaruan hidup itu harus dimulai dari pribadi dan kemudian keluarga. Pada saat keluarga mempunyai kehidupan yang sehat, jemaat atau gereja dan masyarakat akan sehat pula.

Berbicara tentang keluarga, ada pepatah China yang sangat baik berbunyi demikian: “Fuk jie dong shien, wang dho jen chien. Fuk jie phuk dong sien chien jen wang dho. Artinya, “Ketika suami istri bersatu hati, tanah bisa menjadi emas [apa pun masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik dan sehati]. Namun, ketika suami istri tidak bersatu hati, emas bisa menjadi tanah.” Bukankah di masa pacaran dan awal pembentukan keluarga, kesehatian dan kasih itu benar-benar menjadi dasar dalam perjalanan rumah tangga yang baru. Bila saat ini Anda ditanya, “Bagaimana keadaan Anda sekarang ini?” Apakah kesehatian antara suami dan istri masih sama seperti saat Anda berpacaran atau di awal berrumah tangga? Ketika kesehatian itu sudah mulai terusik, memudar, dan mungkin sudah digantikan dengan pengalaman-pengalaman sakit hati, tidak sanggup lagi mengampuni, maka emas itu akan menjadi tanah. Yang sudah baik, yang indah dan menyenangkan itu akan menjadi tanah yang rusak, yang tidak berharga lagi. Paulus mengingatkan jemaat di Kolose, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:18-19).

Tuhan Yesus berfirman, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 18:19). Bukankah dua orang yang sering berkumpul dan paling sering mengalami berbagai masalah adalah suami dan istri sekalipun ayat itu tidak secara langsung menunjuk pada relasi suami istri. Namun, relasi yang paling kecil dan yang di dalamnya paling mudah terjadi masalah adalah relasi suami istri, dan jika dikaruniai anak, maka muncul relasi orangtua dan anak. Jika suami istri itu sepakat, sehati, sepikir dalam kasih, maka apa pun yang diminta, Allah Bapa akan mengabulkan. Tanah itu akan menjadi emas. Marilah kita membangun kehidupan keluarga yang sehati, sepikir dengan satu tujuan dan satu langkah bersama. Keluarga yang demikian akan menjadi keluarga yang tangguh dan diberkati oleh Tuhan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *