Khotbah Perjanjian Lama

Musim-musim Kehidupan

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Mari Saudara perhatikan ayat yang kedua. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal atau mati. Nah inilah yang menjadi patokan di dalam musim-musim yang sudah ditetapkan oleh Allah dalam kehidupan manusia. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati. Dan di antara lahir dan mati itulah peristiwa-peristiwa di ayat selanjutnya sampai ayat 8 itu terjadi. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam, dan seterusnya. Inilah suatu pola, ini adalah suatu pattern yang ditetapkan oleh Allah di dalam musim kehidupan manusia yang harus dijalaninya.

Apa yang diajarkan oleh Allah melalui musim-musim ini, Saudara? Allah mengajarkan bahwa kehidupan Saudara dan saya senantiasa bergerak dari satu musim ke musim yang lain.

Atau menurut istilahnya Pdt. Wahyu Pramudya, hidup bergerak dari satu kutub ke kutub lainnya. Suatu ketika di kutub ini saya merasakan kesedihan, tetapi kesedihan ini bukan sesuatu yang sifatnya menetap, bukan sesuatu hal yang abadi, tapi merupakan situasi sementara. Karena apa? Karena kutub kesedihan ini akan bergerak menuju ke kutub yang memberikan kita sukacita. Bila hidup manusia sudah ditetapkan dengan sempurna oleh Allah, maka ketika Saudara saat ini merasakan kesedihan, merasakan ada kesusahan, ada persoalan, ada sakit-penyakit, bersabarlah. Karena apa? Karena dukacita itu akan segera bergerak menuju sukacita. Tidak ada air mata yang abadi. Itulah yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita. Sebaliknya, Saudara. Apabila saat ini Saudara merasakan sukacita, engkau bisa tertawa, bisa senang… ingat-ingat, Saudara… bisa jadi tangisan sudah menjemput di depan kita. Karena apa? Karena sukacita itu pun bukan hal yang langgeng. Sukacita juga bisa bergerak ke kutub kesedihan. Tidak ada kebahagiaan yang abadi. Ini peringatan bagi yang muda-muda, terutama yang mau marriage. Tidak ada kebahagiaan abadi di dunia ini. Jadi, kalau ada yang menjanjikan: bersamaku engkau akan hidup bahagia selama-lamanya, bohong itu. Ya, bohong! Justru di sinilah Allah ingin mempersiapkan kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak ada suatu pengalaman kehidupan yang baik maupun pengalaman kehidupan yang buruk akan bertahan selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *