Renungan Berjalan bersama Tuhan

Teguran Si Bijak

Bulan berikutnya ia berkhotbah kembali dan kali ini sorot matanya tertuju kepada bapak yang pernah memberikan kritik bulan lalu. Sampai-sampai bapak itu merasa canggung dan menundukkan kepalanya. Sewaktu bersalaman, bapak itu berkata, “Apakah Anda marah kepada saya? Kalau tidak, mengapa sepanjang khotbah tadi Bapak terus menatap saya?” Sang pengkhotbah pun tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya diam seribu bahasa sambil tersenyum simpul. Memang, sang pengkhotbah merasa sakit hati ketika ia mendengar kritik itu bulan lalu dan dalam hati ia berkata, “Coba bapak itu yang berkhotbah, saya akan melihat ia bisa atau tidak! Memangnya gampang membuat sebuah khotbah?” Esok harinya, sang pengkhotbah merasa tidak tenang dan akhirnya ia menghubungi bapak tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *