Dengan tulus, bapak tersebut memberikan masukan bahwa khotbahnya itu susah dipahami karena banyak konsep yang dimunculkan, tidak ada aplikasi dan bentuk konkretnya, sama sekali tidak ada ilustrasinya. Sungguh, masukan yang luar biasa. Kemudian, sang pengkhotbah mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak itu dan berharap bapak tersebut terus memberikan masukan dan kritik yang membangun. “Jangan merasa sungkan, sampaikan saja kepada saya,” kata sang pengkhotbah. Bulan depannya, sang pengkhotbah mendapat jadwal khotbah kembali. Lalu ia mempersiapkannya dengan baik. Ia menambahkan contoh, ilustrasi, penjelasan teks yang sederhana, dan kali itu khotbahnya benar-benar bisa dimengerti dengan baik. Dan, bapak itu memberikan masukan kembali bahwa khotbahnya kali ini bagus sekali. Sang pengkhotbah sangat berharap bapak tadi menjadi penatua agar ia dapat memberikan masukan yang baik kepada semua hamba Tuhan yang ada. Akhirnya, bapak itu bersedia menjadi penatua yang terus memberikan kritik yang membangun. Sang pengkhotbah belajar banyak dari teguran, kritikan, atau masukan yang disampaikan kepada dirinya. Memang pada mudanya semua masukan itu tidak enak dan ia merasa sakit hati dan tersinggung. Namun, setelah direnungkan kembali, ternyata teguran, kritik, dan masukan itu sangat membangun.
Teguran Si Bijak
December 23, 2018