Kalau tadinya Musa peka terhadap manusia, sekarang dia peka terhadap Allah. Peka terhadap kehadiran Allah. Saya percaya juga nyala api itu ada di tempat ini. Saat kita datang mendekat, kita menjadi peka terhadap Allah, terhadap kehadiran Allah di dalam kehidupan kita. Ada satu kontak pribadi antara kita dengan Allah. Itulah kekuatan di dalam kehidupan kita. Ketika itu terjadi kita melihat satu kebenaran yang luar biasa. Allah mulai membuka rahasia pribadi-Nya di hadapan Musa. Saat Musa bertanya kalau nanti umat Israel bertanya siapa nama Tuhan yang mengutusnya, Allah mengatakan ‘AKU ADALAH AKU.’ Ini adalah nama Allah yang kekal. Nama Allah yang abadi. Yang penuh dengan kuasa. Nama yang sungguh luar biasa. Nama yang begitu dahsyat. Seakan-akan saat itu, ‘AKU ADALAH AKU’ itu mengisi penuh hidup Musa yang kosong selama 40 tahun hidup di padang gurun Midian. Tumpukan abu yang tidak berguna itu kembali dipenuhi oleh ‘AKU ADALAH AKU.’
Semak yang Menyala-nyala Namun Tak Terbakar
August 25, 2017