Khotbah Perjanjian Lama

Semak yang Menyala-nyala Namun Tak Terbakar

Sekarang mari kita perhatikan, bagaimana langkah yang berikutnya saat Musa sudah mulai melihat apa yang terjadi di hadapannya. Perhatikan ayat 12. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya di dalam pasir. Pada saat saya merenungkan kejadian ini, saya mulai membayangkan apa yang terjadi di dalam diri Musa, setelah melihat. Apa yang dilakukan Musa? Menoleh ke sana sini. Menoleh ke depan, ke belakang, ke samping kiri, ke samping kanan. Aman. Tidak ada orang. Tidak ada yang lihat. Aman kok, tidak apa-apa. Ayo. Teruskan. Coba perhatikan, bukankah itu yang sering terjadi di dalam kemanusiaan kita? Saat kita merasakan tidak ada orang yang melihat, aman aman saja, kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bukankah kalau Saudara melihat berita di televisi, mereka yang ditangkap tangan oleh KPK, mereka juga merasa aman kok, tidak ada yang melihat kok, ayo tidak apa-apa. Saudara, inilah yang terjadi. Karena merasa diri aman, lihat sana lihat sini, tidak ada orang, Musa membunuh orang Mesir. Tapi ada satu hal yang dilupakan oleh Musa. Saat ia celingak-celinguk kiri kanan, tidak ada orang, ada satu yang tidak dilakukan Musa. Dan itu satu hal yang dilupakan oleh Musa. Musa lupa untuk melihat… ke mana, Saudara? Melihat ke atas. Manusia tidak melihat, tapi Allah melihat. Itulah yang sering kali kita lupakan. Saat kita melakukan sesuatu hal yang tidak benar, kita merasa diri aman, karena lingkungan kita tidak melihat. Kita juga sering lupa seperti halnya Musa. Kita lupa untuk memandang ke atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *