Khotbah Perjanjian Lama

Semak yang Menyala-nyala Namun Tak Terbakar

Sekarang kalau kita sudah tahu bagaimana perbedaan nyala api manusia dengan nyala api Allah, bagaimana prinsip nyala api Allah ini kita terapkan di dalam kehidupan kita, Saudara? Ini yang perlu kita tahu. Karena sering kali yang terjadi di dalam kehidupan kita, kita hanya hidup di  masa lalu kita dan mengatakan Eben-Haezer. Sampai di sini Tuhan menolong kita. Lha terus selanjutnya gimana? Sering kali kita berhenti di situ. Atau bahkan kita berusaha hidup dengan melihat melampaui masa kini. Kita hidup di masa yang akan datang, dan mengatakan Maranatha. Tuhan datanglah segera. Kita mendambakan kedatangan Tuhan, namun satu hal yang kita lupakan… dan inilah yang kita bisa pelajari dari Musa, kita melupakan hidup di masa kini. ‘AKU ADALAH AKU.’ Itu adalah Allah yang kekal. Bukan hanya Allah di masa lalu, bukan hanya Allah di masa depan, tetapi Allah di masa kini itu juga adalah ‘AKU ADALAH AKU.’ Dan Saudara tahu siapa AKU ADALAH AKU? Dialah Tuhan Yesus Kristus yang dalam Injil mengatakan ‘AKU ADALAH…’ sampai tujuh kali. Kebenaran ini sering kali kita lupakan. Kebenaran ‘AKU ADALAH AKU’ di masa kini itu juga bisa Saudara dan saya alami di dalam hidup ini. Saat kita sadari bahwa di saat ini ‘AKU ADALAH AKU’ bersama dengan kita, kita juga bisa mengalami Allah dalam hidup ini seperti Musa. Dan itulah yang dipegang oleh Musa sepanjang hidupnya. Apa pun yang terjadi di sepanjang hidupnya, ‘AKU ADALAH AKU’ tetap ada di sana. Bukan hanya di masa lalunya, bukan hanya di masa depannya, tapi juga saat itu ‘AKU ADALAH AKU’ bekerja di dalam hidupnya. Dan kita saksikan mujizat demi mujizat itu terjadi di dalam kehidupan orang Israel melalui Musa yang dipakai oleh Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *