Tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana. Tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Bukan mahkota orang Yunani, melainkan mahkota dari Allah.
Selanjutnya Paulus menggunakan metafora Yunani, pertandingan tinju di mana setiap orang saling menghancurkan dan membinasakan lawan. Metafora ini dipakai untuk menegaskan bahwa dalam kehidupan beriman, kita perlu sekali memiliki pukulan yang terarah, tidak sembarang memukul. Dengan kata lain kehidupan beriman perlu pengendalian diri, mau berjuang dan rela menderita dalam mengikut Kristus untuk menyaksikan Injil; yang diimaninya dan bagaimana ia hidup memuliakan Tuhan.