Roh Kudus bukan hanya dijanjikan untuk kita, namun telah diberikan, Dia akan menuntun kita ke dalam seluruh (bukan sebagian) kebenaran. Masalahnya, seberapa jauh kita rela diajar oleh Tuhan sendiri? Mari kita kembali pada pertanyaan yang pernah diajukan para murid dalam Matius 13, “‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak’” (Matius 13:10,11). Tuhan Yesus melihat dengan jelas bahwa mayoritas umat itu tidak berhasrat untuk hal-hal mengenai Allah sehingga Dia tidak dengan terang-terangan menjelaskan rahasia Kerajaan Surga. Dengarkan apa yang Tuhan katakan kemudian, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. … Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (ayat 13,15,16). Perbedaan tersebut tidak terletak pada kemampuan pembawaan para murid dalam memahami firman Tuhan, melainkan terletak pada keinginan, kesediaan, kerelaan mereka untuk diajar oleh Tuhan sendiri. Mereka sesungguhnya buta spiritual, namun melalui iman, Tuhan telah memampukan mereka untuk melihat.
Buta yang Dicelikkan!
February 22, 2018