Di dalam gereja, kecenderungan berkonflik seperti ini juga bisa terjadi. Setiap orang yang merasa diri paling hebat akan melihat orang lain dalam sisi kelemahannya, bahkan tega mengkritik dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Tujuannya bukan untuk membangun, tetapi karena ada rasa iri yang tersimpan, jika orang lain lebih maju dari dirinya.
Sebenarnya, mengkritik dan melihat kelemahan orang lain itu adalah pekerjaan yang sangat mudah. Sebaliknya memuji atau mengapresiasi kelebihan orang lain membutuhkan kedewasaan rohani.