Inilah kesaksian dari semua orang kudus atau orang Kristen yang berada di bawah naungan kasih-Nya di segala tempat dan sepanjang abad. Ayat singkat dari Yohanes 1:16 ini bisa kita pelajari dengan dua huruf F, yakni Fullness dan Filling. Sebagai seorang hamba Tuhan yang sederhana dan sadar akan keterbatasan diri, saya mencoba untuk membagikan firman Tuhan. Sebuah kata yang bermakna tak terbatas: “Fullness” atau kepenuhan. Saya bagaikan seorang anak kecil yang mengimpikan ingin mencedok air laut sedikit demi sedikit melalui sebuah kulit kerang. Saya berdiri pada sebuah sisi alam semesta ini, yang tidak mampu untuk melihat ujung satunya dari alam ini. “Filling” atau pemenuhan atas diri kita merupakan suatu tindakan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Sungai Allah yang besar, yang penuh dengan air, dengan sangat baik sedang serta akan memenuhi kanal-kanal pribadi dengan kasih karunia demi kasih karunia-Nya. Menyongsong Natal yang tiga hari lagi akan dirayakan bersama, saya mengajak kita untuk memikirkan: sungguh Yesus Kristus sebagai Allah dengan kepenuhan kasih karunia-Nya yang kaya dan mulia justru telah datang menjadi pribadi yang papa atau miskin dan dihina oleh manusia. Marilah kita merenungkan betapa Yesus Kristus telah menerima semua perlakuan manusia ini, hanya dengan satu tujuan agar melalui penghinaan atas diri-Nya kita dimuliakan, melalui kepapaan-Nya kita justru menjadi kaya!
His Fullness = Kepenuhan-Nya
Fullness Yesus Kristus, Anak Allah—Oh, betapa di dalam segala kepenuhan-Nya, suatu kepenuhan pribadi-Nya; Sang Penebus kita, yang pada hakikatnya adalah Allah, dengan merendahkan diri-Nya telah mengambil natur manusia. Dia yang sempurna itu memiliki seluruh kepenuhan. “Fullness”—di dalam diri-Nya berdiam seluruh kepenuhan Allah, kemahakuasaan Allah. Segala kuasa telah diberikan kepada Dia sebagai Mediator di surga dan di bumi. Kemahahadiran Allah berada di dalam diri Yesus Kristus: “sebab dimana ada dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Nya, Ia berada di tengah-tengah mereka. Ia memiliki hikmat sempurna, bahkan tatkala Ia hidup di dunia ini,” Ia menyerahkan diri-Nya sendiri kepada manusia dan tidak membutuhkan korfirmasi manusia atas diri-Nya, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam diri manusia.” Di dalam diri Yesus ada kepenuhan dalam keadilan. Allah Bapa telah mengaruniakan kuasa penghakiman kepada Anak-Nya—via kebangkitan-Nya dari kematian, kuasa ini diberikan kepada Dia. Di dalam diri Yesus juga terdapat kepenuhan dalam kemurahan-Nya—melalui Dia berita pengampunan dosa disampaikan kepada kita. Semua atribut Allah Bapa dengan sempurna dikenakan atas diri-Nya sebagai suatu totalitas kesempurnaan; kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, keunikan persatuan-Nya itu ada di dalam diri Yesus Kristus sendiri.