Cobalah kita amati pemenuhan tersebut dilakukan oleh Tuhan kepada setiap orang tanpa kecuali. Syaratnya hanya satu: “kita mau menerima”. Setiap orang kudus sudah mengambil bagian dalam pemenuhan Tuhan ini. Kalimat “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima” dengan jelas memanifestasikan bahwa setiap orang memiliki hak istimewa untuk menerima pemenuhan ini. Dalam pelayanan penginjilan, tatkala Injil diberitakan, undangan kasih Allah ditawarkan, betapa kita menyaksikan ada sejumlah besar orang yang menolak pemenuhan tersebut. Oh, betapa suatu keputusan yang salah dan berakibat fatal. “Kita semua”—siapakah yang dimaksudkan dengan kita semua ini? Tak lain adalah kita semua yang percaya. Kita semua yang pernah sekali menjadi anak yang hilang, tersesat bagaikan domba yang terpisah dan tersesat dari sang gembalanya, seperti sekeping dirham yang hilang—kita yang sama-sama perlu dicari, ditemukan, bahkan diselamatkan. Namun “pemenuhan” ini hanya akan terjadi bila kita masing-masing secara pribadi mau menerima. Penerimaan personal berlaku dalam konteks ini, sebab tidak ada seorang pun sanggup atau diperbolehkan mewakili kita untuk pemenuhan ini.
Kedatangan Kristus Mengubah yang Hina Menjadi Mulia
February 8, 2018