“Di dalam Dia berdiam segala kepenuhan Allah Bapa”. Dia adalah image ekspresi pribadi Allah Bapa. Dia bukan hanya memiliki kemuliaan Allah Bapa, tetapi juga pancaran cahaya kemuliaan Allah (Brightness of the Father’s Glory). Betapa bernilainya keyakinan kita kepada Dia, sebab di dalam kepenuhan inilah kita menerima kasih karunia demi kasih karunia Allah.
Pada sisi lain, Dia juga sebagai manusia sempurna. Dia murni tanpa mewarisi dosa; watak-Nya tidak terarah pada hal-hal yang jahat. Kesempurnaan natur-Nya sebagai manusia terlihat dalam karya dan kehidupan-Nya. Dia memiliki kepenuhan yang simpatik. Dia bukan seorang Imam Besar yang tidak dapat merasakan segala kelemahan kita, melainkan malah telah dicobai dalam segala hal sama seperti kita. Janganlah kita berpikir bahwa sifat kemanusiaan Yesus kurang lebih mirip dengan sifat manusia kita masing-masing. Dia sungguh-sungguh adalah manusia. Dia memiliki segala kelembutan, hati-Nya diliputi dengan kasih. Totalitas natur manusia berada di dalam Dia, namun perbedaan antara Dia dan kita adalah Dia tanpa dosa. Natur simpatik-Nya terwujud melalui kerelaan-Nya menangis bersama orang-orang yang berduka, bersukacita dengan orang yang berbahagia.