Hingga hari itu datang, seorang malaikat yang memberitakan kabar yang menyukakan: “Akan lahir seorang Juru Selamat, yang kerajaan-Nya pun tidak akan berkesudahan.” Tentu kabar ini sangatlah menggembirakan, namun, untuk Maria berita itu tidak berhenti di sana. Ia-lah yang akan mengandung Juru Selamat yang dijanjikan itu. Dari jutaan wanita Yahudi, dialah yang dipilih Allah untuk mengerjakan tugas ini. Maria tidak pernah diberitahu mengapa ia yang dipilih. Maria tidak pernah dijelaskan terms & conditionnya (Syarat dan ketentuan berlaku) bila ia menerima tugas itu. Tentu dalam hatinya ia mengalami dilema. Di satu sisi, ia bersukacita luar biasa karena Allah menggenapi janji-Nya. Namun di sisi lain ia sangat sedih, takut, kuatir, bagaimana hal itu bisa terjadi pada perawan seperti dia? Bagaimana dengan tunangan yang mengasihinya? Di satu sisi dia memang punya harapan yang begitu besar akan hadirnya Juru Selamat itu, namun di sisi lain, ia pun merasa tidak siap bila harus mengandung Sang Bayi. Pertanyaannya pada malaikat: “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku belum bersuami?” merangkum kegundahan hatinya. Malaikat Gabriel meyakinkannya, bahwa tidak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah. Gabriel jugalah yang memberitahu bahwa keluarganya yaitu Elisabet dalam kemandulan dan usia tuanya pun, saat itu sudah hamil 6 bulan. Bagi Allah, terlalu kecil untuk membukakan kandungan dari seorang yang mandul, dan bukan mustahil juga kehamilan terjadi pada seorang perawan, jika itu memang cara yang Allah pakai untuk menjalankan rencana keselamatan-Nya. Maria pun menanggapinya dengan sebuah respons iman: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Magnificat
December 18, 2020