Tetapi lebih jauh, mengapa perlu fokus kepada Yesus? Mengapa tidak kepada yang lainnya, misalnya kepada kekuatan, kepada kelebihan kita sendiri? Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari teks Ibrani 12: 2 – 3 ini:
- Kristus adalah yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (ayat 2). Kita percaya bahwa Yesus bukan saja sumber dari iman kita, tetapi Ia juga yang memimpin kita dalam perlombaan iman ini. Sebentar Pak, … “memimpin” ke mana? Tentu saja kepada “kesempurnaan”, karena Yesuslah sang penyempurna iman kita. Hal ini seperti kalau saya berkunjung ke sbuah kota yang masih asing, tetapi saya tidak kuatir. Mengapa? Karena saya berangkat dengan seorang teman yang tinggal di kota tersebut. Ia berangkat bersama saya, dan memandu di sepanjang perjalanan. Saya percaya bahwa saya akan sampai di tempat tujuan dengan baik. Teman saya adalah sumber informasi yang paling terpercaya, kemudian ia juga memimpin perjalanan ini. Akhirnya saya akan selamat sampai di tempat tujuan dengan baik. Itulah gambaran yang saya lihat dari Ibrani 12: 2 mengenai sosok Kristus.
- Kristus pernah mengalami penderitaan dalam kemanusiaan-Nya.
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Tuhan Yesus pun pernah menanggung penderitaan dan kesulitan yang tidak ringan. Tetapi Tuhan Yesus, bukan hanya bertahan, terus berjuang menyelesaikannya hingga detik terakhir. Ia menyelesaikan semuanya sewaktu berseru: “Sudah genap” di atas kayu salib. Penderitaan yang tidak seharusnya Ia pikul telah tuntas di tanggung-Nya. Mengapa? Untuk karya keselamatan ilahi bagi umat manusia. Bagi saya, kenyataan bahwa Juruselamat dan Tuhanku pernah mengalami penderitaan yang tak tertanggungkan, membuat saya meneguhkan hati untuk tetap berjuang di dalam kehidupan ini. Ia tahu apa artinya menderita. Ia mengerti bagaimana sakitnya menahan semua kesakitan itu. Ia sangat memahami betapa lemahnya seorang Petrus yang menyangkali-Nya. Maka Ia juga memahami kita yang berjuang dengan pergumulan kita hari ini – pergumulan yang seakan tak tertahankan itu.