Khotbah Perjanjian Baru

Hidup Tanpa Menghakimi

SS, dengan penggambaran ini pula, Yesus menyatakan natur manusia. Betapa mudahnya bagi kita untuk melihat kesalahan orang lain. Betapa benar bahwa dosa yang mudah kita temukan pada orang lain adalah dosa yang mungkin juga kita lakukan. Yesus tidak melarang orang percaya untuk menyingkirkan selumbar dari mata saudaranya, tetapi lebih dulu harus menyingkirkan balok dari matanya sendiri. Buang dulu balok yang di depan mata kita. Artinya, harus ada evaluasi diri sendiri terlebih dahulu sebelum menegur, mengeritik, memberi masukan untuk orang lain. Ada orang yang merasa lebih baik dari orang lain, sehingga mudah menghakimi. Adakah waktu untuk periksa diri sendiri sebelum memerbaiki orang lain? Adakah juga telah memeriksa motivasi diri, benarkah dengan penuh rendah hati atau dengan penuh pemikiran bahwa kita jauh lebih baik daripada orang tersebut? Seseorang bisa saja merasa dirinya sangat benar di dalam pandangannya, tetapi jika ia tidak rendah hati, sebagaimana Allah menilainya, ada sebuah balok di matanya, sebuah balok pembenaran diri. Ini membuatnya menjadi seorang dokter yang buta yang mencoba untuk melakukan operasi pada mata orang lain. Apa yang dilarang Yesus adalah penghakiman adalah mencermati orang lain tanpa melihat pada diri sendiri. Standar yang keras akan berbalik pada orang yang mengutuk orang lain dengan penghakiman itu. Yesus mengajarkan bahwa introspeksi yang jujur sangatlah dibutuhkan untuk pembedaan yang jelas dan adil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *