Khotbah Perjanjian Baru

Hidup Tanpa Menghakimi

Tetapi pengikut Kristus tidak harus menjadi tukang kritik atau menghakimi dalam perilaku mereka terhadap orang lain. Penghakiman, semangat mengeritik berbeda secara radikal dari kasih. Ini yang ditentang oleh Yesus. SS, jika bernuansa negatif, kata krinō diterjemahkan “Menghakimi,” dalam arti suka menyalahkan orang lain. Singkatnya, menghakimi adalah membuat evaluasi negatif mengenai orang lain tanpa berempati kepada mereka. Kata ini juga merujuk pada perilaku penghakiman pribadi yang dilakukan seseorang untuk merendahkan orang lain demi membangun dirinya sendiri agar terlihat lebih baik dan hebat. Contohnya (Ini hanya contoh, ya…): “Ini tadi main musiknya ada banyak salah ya, pasti karena tidak latihan. Kalau saya sih, sering sekali latihan dan pasti akan sungguh-sungguh kalau tahu akan pelayanan.” Ia sudah menghakimi orang lain tidak latihan sembari membandingkan dengan dirinya, yang terlihat lebih baik karena sering latihan. Padahal belum tentu juga orang itu tidak berlatih, mungkin saja di hari itu ia kurang konsentrasi karena baru mendengar kabar duka dari keluarganya, misalnya. Dengan perintah “Jangan menghakimi”, Yesus menentang “Semangat penuh sensor” yang ada dalam diri orang percaya, yaitu menghakimi dengan kasar, membenarkan diri, tanpa belas kasihan dan empati kepada orang lain. Untuk membedakan dan kritis itu perlu, tetapi hiper-kritis adalah salah. Dalam mata orang yang hiper-kritis, melihat orang lain seperti siap untuk men-scan dan mengeritisi apa pun yang dilihatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *