Khotbah Perjanjian Lama

Di Tangan Tuhan

Sekarang mari kita perhatikan bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat kue bolu kukus. Ternyata bahan-bahan yang dipergunakan untuk kue bolu kukus mirip dengan apa yang kita alami di dalam hidup ini. Yang pertama, tepung terigu. Saudara pernah tidak merasakan tepung terigu? Bagaimana rasanya? Ada yang tahu? Anyep, ya betul, Saudara… tepung terigu itu anyep. Apa ya bahasa Indonesianya? Tawar, hambar. Bagaimana dengan hidup Saudara? Pernah tidak Saudara mengalami hidup kok kayak tepung terigu? Hidup yang aku jalani ini kok anyep-anyep. Hidupku kok hambar. Yang berikutnya gula. Rasanya bagaimana, Saudara? Manis. Saudara pernah merasakan hidup yang manis? Pernah ya. Di saat-saat badan kita masih kuat, sehat, tidak sakit-sakitan, berkat Tuhan mengalir… hidup ini manis. Sekolah kita naik terus, lulus, diwisuda… manis. Hidup keluarga kita diberkati melimpah, manis. Mungkin pada saat-saat seperti itu, mulut kita bisa memuji Tuhan: Kau yang termanis buat jiwaku. Buat jiwaku. Buat jiwaku. Manis soale. Tapi, bagaimana kalau hidup itu kayak telur ayam? Pernah membau telur ayam? Baunya gimana? Amis. Pernahkah Saudara mengalami hidup yang amis? Atau bahkan telor yang sudah amis itu kita biarkan terus… dijarno wae terus, apa yang terjadi? Ya… mambu, busuk. Bagaimana dengan hidup Saudara? Pernah mengalami hidup seperti itu? Saat kita gagal, saat kita mengalami kesalahan, saat kita jatuh dalam dosa, hidup kita jadi amis, bahkan busuk karena dibiarkan berlama-lama. Yang berikutnya. Hidup ini kayak sprite, Saudara. Pernah merasakan sprite? Apalagi panas-panas begini, ngombe sprite dikei es. Seger. Bener, enak, seger sekali. Kadang-kadang hidup kita ini seperti sprite… merasakan ada suatu kesegaran, ada suatu semangat baru, sehingga apa pun kita lakukan dengan sukacita, kita pun siap melayani Tuhan. Dan kita bisa menambahkan rasa-rasa yang lain.

3 thoughts on “Di Tangan Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *